| Citra di Toraja, Sulsel |
| Tuesday, 02 November 2010 02:38 |
|
Toraja merupakan daerah wisata terkenal di Sulawesi Selatan dan juga sebagai salah satu tujuan wisata terbaik di Indonesia. Dari 450.000 penduduk yang mendiami Toraja, 65 % beragama Kristen Protestan dan 17 % Katolik. Sekalipun mayoritas penduduk bekerja sebagai petani namun angka kemiskinan masih cukup tinggi, sekitar 89.800 jiwa (data statistik 2007). Suku asli di daerah ini adalah Suku Toraja yang sekalipun mayoritas beragama Kristen namun mereka tetap menjunjung tinggi kebudayaannya. Berdasarkan literatur sejarah bahwa suku Toraja dan Nias merupakan keturunan dari suku asli dan kebudayaan Austronesia. Tanggal 3 s.d 4 Agustus 2010 lalu Hotel Missiliana Rantepao - Toraja Utara, Jaringan Doa Nasional bekerjasama dengan Gereja-gereja di Toraja dan Makasar mengadakan training bagi para pemimpin, pendeta, pekerja dan pendoa di Toraja. Dari 113 peserta training yang mengisi daftar hadir, hampir 50% atau 48 orang diantaranya adalah Gembala Sidang atau Pemimpin dari Jemaat atau gereja lokal yang ada di Toraja. Peserta antusias mengikuti sesi-sesi yang cukup padat karena training berlangsung dari pagi sampai sore. Peserta memberikan respon berupa pertanyaan dan juga pendapat sesuai materi yang disampaikan oleh trainer/narasumber, contohnya saat penyajian materi tentang Gereja yang Mentransformasi Kota, Panggilan Fasilitator yang menyadarkan para peserta untuk menjadi agen perubahan mulai dari diri sendiri. Tidak hanya sesi presentasi dan diskusi yang dilakukan tapi dalam training ini peserta diajak untuk membangun pola kerja sama tim, kesatuan dalam bentuk simulasi permainan dengan tujuan agar peserta dapat mengembangkan materi yang diperoleh dan selanjutnya menjadi suatu aktivitas yang mengubahkan hidup pribadi dan komunitas.
Sebagai feedback dari peserta, mereka berkomitmen untuk memotivasi 281 orang untuk berdoa dalam kelompok mereka, bagi 214 desa di Sulawesi Selatan dan siap berdoa bagi 456 komunitas bagi Kristus. Diakhir acara, tim JDN mengunjungi beberapa situs budaya khas Toraja, salah satunya kubur batu yang sangat terkenal. Yang menarik adalah ketika kami mewawancarai dan berdoa bagi seorang “guide” setempat yang ternyata adalah seorang anak dari tetua adat yang sekaligus majelis dari Gereja Lokal setempat. Mari terus dukung doa Gereja-gereja lokal di Sulawesi Selatan, khususnya di Toraja agar Terang Tuhan menyinari wilayah ini dan banyak orang yang berkunjung untuk melihat kedahsyatan Tuhan di Toraja. Bisa dibayangkan seandainya Malasya mengusir semua TKI, niscaya akan ada sejumlah besar org Toraja kehilangan pekerjaannya, lalu pulang kampung dgn tangan hampa, menambah deretan pengangguran. Bayangkan pula jika sejml org Toraja yg bekerja di sektor2 jasa skala kecil sperti di Kalimantan, Papua, Makassar, dll di-PHK akibat krisis finansial yg membuat perusahaan tempat mereka kerja melakukan efisiensi kemudian balik ke kampung rawat kopi dan piara babi, tapi pada saat yg sama harga kopi anjlok dan harga pakan babi menjulang tinggi. Belum lagi masyarakat yg tergolong petani kecil dgn keterbatasan penguasaan atas aset produksi. Artinya, mereka-mereka inilah masyarakat rentan (vulnerable people) terhadap goncangan & perubahan2 kebijakan ekonomi-politik yang berdampak pada kemiskinan (cronic poverty). Kalau statistik 2007 dijadikan acuan, ada sekitar 80% masyarakat di Tana Toraja dikategorikan tdk miskin, dan kurang-lebih 20% sisanya tergolong miskin. dari 80% tdk miskin tersebut sebetulnya ada sebagian yg berada dekat dengan batas garis kemiskinan, sehingga kalau se-waktu2 ada gangguan perubahan kondisi sosial-ekonomi-politik yg berdampak signifikan terhadap kelangsungan penghidupan mereka seperti andaian2 di atas, maka sebagian masy yg tergolong tdk miskin tadi, akan jatuh miskin sekaligus menambah komposisi org miskin yg sblmnya memang sdh tergolong miskin. Untuk kasus kemiskinan kronis ini, program2 pembangunan yg berorientasi pemberdayaan sangat efektif seperti kredit mikro, peningkatan produksi dan income semisal PNPM. Terlepas dari kinerja program PNPM di sebagian daerah yg konon amburadul, pada kenyataannya PNPM terbukti ampuh mengatasi kemiskinan di banyak tempat. Jadi kalau ada elit pemerintahan apalagi Balon Bupati tertentu yg sengaja menghalangi kelancaran implementasi PNPM, masyarakat penerima manfaat program tsb berhak menggugat, bila perlu mem-PTUN-kannya, atau jangan pilih dia. |
World Prayer Assembly
Latest News
- Sekilas Info SCHOOL OF PRAYER di Wamena
- Pra WPA 2012 Surabaya
- Pra WPA 2012 Ambon
- Mengapa Kita Harus Berdoa?
- Peranan Wanita Dalam Kegerakan WPA 2012
- Diciptakan Tuhan Untuk Menjadi Sangat Berguna
- Luar Biasanya Kuasa Kepedulian
- Sosialisasi WPA di Medan
- Manado, 8-9 Agustus 2011
- Sosialisasi WPA Youth Track di Batam diadakan dua hari dari tanggal 18-19 oktober 2011
- Seek My Face
- Rapat Kerja Nasional (Rakernas) JDW
- Flood in Bangkok
- Alami Muzijat Dalam Masa Sukar
- Kunjungan Dept/Track Mobilisasi Pra WPA ke Palembang
- Rakerda Papua









