| Alami Muzijat Dalam Masa Sukar |
| Thursday, 10 November 2011 17:34 |
|
“ANAK-KU TIDAK JADI MATI” Sambungan renungan bulan oktober............................ Bulan yang lalu kita sudah melihat, bagaimana ibu janda ini mengalami mujijat yang luar biasa, dari yang tidak mungkin,Tuhan kerjakan menjadi mungkin lewat mujijat dari minyak yang sedikit dalam buli-buli memenuhi semua bejana-bejana, dan kahirnya ibu ini menjual semua minyak itu lalu membayar hutangnya dan alkitab catat ibu ini hidup dari sisa penjualan minyak itu. Artinya apa? Satu kebenaran yang saya peroleh kalau Tuhan sudah bekerja Dia bekerja tidak setengah-setengah tapi dia bekerja sempurna. Saya sungguh sangat percaya dalam koteks bangsa inipun, mungkin sekarang kita melihat ada banyak hutang-hutang bangsa ini yang belum terbayarkan, tapi saya mau katakan jika Tuhan sudah pulihkan bangsa ini, bangsa ini akan sampai pada tahap tidak berutang bahkan sebaliknya menjadi bangsa yang akan memberi pinjaman. Sebagai orang percaya dan berharap kepada Tuhan tentunya ada banyak pekerjaan-pekerjaan yang besar yang Tuhan sudah nayatakan dalam hidup kita, dalam renungan bulan ini saya mau memberikan kesaksian yang pernah saya alami dan kesaksian ini membuat saya terkagum-kagum akan Tuhan dan akhirnya memiliki iman yang semakin besar jika Tuhan ijinkan mengalami masa sukar. Saya memberi judul kesaksian ini “ANAK-KU TIDAK JADI MATI” Dalam renungan bulan yang lalu ada 5 hal yang kita sudah pelajari sehingga ibu janda ini mengalami mujijat;
Kami dianugerahkan Tuhan 3 orang anak, yang pertama Priskila Joel (kelas I SMU), kedua Timothy Joel (kelas 5 SD), dan yang ketiga Yehuda Yabes Joel (kelas 2 SD). Anak kami yang ketiga Yehuda ketika lahir, dia lahir sempurna dan bertumbuh layaknya bayi-bayi yang lain. Namun dalam usia memasuki 5 bulan, ada satu yang aneh dalam dirinya, ketika dia mengalami demam, kami melihat wajahnya, dekat matanya terutama kelihatan biru. Kami langusung larikan ke RS dan dokter memvonis Yehuda kelainan jantung. Dokter mendiagnosa dia mengalami bocor jantung. Kami sepertinya tidak percaya dengan kesimpulan dokter, dan keesokan harinya kami bawa lagi ke RS yang lain dokter yang kedua memberikan diagnosa yang sama yakni bocor jantung, dan sedikit kami mulai resah dengan kesimpulan dokter, dan istri saya menangis, karena kerap sekali ketika dia kambuh nafasnya sudah seakan-akan putus seperti orang yang mau meninggal. Kami belum merasa puas akhirnya kami bawa dia ke RS yang ketiga dan kami tidak menceritakan kalau kami sudah pergi ke dua RS yang berbeda dan dokter yang berbeda. Dengan rasa cemas kami menunggu apa yang akan dikatakan dokter sebagai kesimpulan, ternyata dokter ketiga menemukan dari hasil pemeriksaaan anak kami tidak hanya bocor jantungnya tapi juga memiliki penyempitan pembulu darah dari jantung ke paru-paru. Setelah 3 orang dokter memberi kesimpulan bahwa anak kami bocor jantung, kami tidak tahu lagi mengerjakan apa-apa kecuali berdoa dan menangis kepada Tuhan, dan mencari wajah Tuhan untuk mengetahui apa tuntunan Tuhan terhadap kami dengan kondisi sedemikian. Saya mulai mengucap syukur dan tidak menyalahkan siapa-siapa, yang bisa saya lakukan selain selalu membawa anak Yehuda ke dokter hanya berdoa, berdoa dan berdoa, minta pertolongan Tuhan.
Dalam kondisinya yang selalu naik turun, akhirnya dokter yang di RS yang ketiga sarankan ketika Yehuda sudah satu tahun dia harus dioperasi. Tapi mulai dari bulan kelima ketika dia divonis bocor jantung kami terus bolak-balik di opname di RS. Masalah yang kami alami bertambah bukan hanya tentang anak kami, dalam usia Yehuda 8 bulan, Ayah dan Ibu saya datang dari Medan untuk melihat cucunya yang sedang sakit, Tuhan ijinkan beban yang semakin berat untuk kami, ketika ibu saya lima hari di Jakarta melihat cucunya yang sedang sakit tiba-tiba dia jatuh sakit, dan kami larikan ke RS, dua hari di rawat di RS dia dipanggil Tuhan pulang ke Rumah Bapa. Saya sungguh mengalami beban berat, anak sedang parah-parahnya ibu meninggal lagi. Saya pun akhirnya pulang ke Medan membawa jenazah, keesokan harinya setelah ibu saya di makamkan, saya langsung ke Jakarta karena kondisi Yehuda. Sesampai saya di Jakarta kondisinya makin parah dan akhirnya kami larikan dia ke RS. Dan dokter berkata harus segera operasi tidak perlu tunggu usia 1 tahun. Saya mulai menjajaki berapa uang yang di butuhkan, saya disuruh menyiapkan uang 55 jt rupiah, sementara saya tidak punya asuransi atau fasilitas lainnya. Kembali lagi saya tidak tahu mengerjakan apa-apa kecuali berdoa, dari hasil doa, saya dipertemukan oleh seseorang dengan bagian keuangan RS tersebut. Saya mulai terbuka menceritakannya bahwa saya tidak punya uang sebesar itu karena Yehuda sudah bolak-balik terus ke RS dan kami tidak lagi mempunyai uang. Tapi orang yang kami temui hampir saja tidak percaya kalau saya tidak mempunyai uang dan dia berkata masah sih pak pendeta tidak punya uang? Pendeta biasanya kan banyak uang? Akhirnya saya ceritakan lagi bahwa saya sungguh terbuka dan memang saya tidak punya uang lagi karena sudah sering bolak-balik RS. Ketika saya terbuka dengan mengatakan apa adanya dan punya sikap hati yang jujur, orang yang saya temui ini akhirnya memberikan solusi kepada saya dan mengelompokkan saya sebagai keluarga pasien yang tidak mampu, dan saya disusruh untuk mengurus surat-surat karena saya akan mendapat fasilitas SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu)
Satu keadaan yang sangat tidak enak saudara, akhirnya dalam usia yang ke 10 bulan anak kami masuk ke RS untuk persiapan operasi sambil saya mengurus surat-surat yang diminta oleh RS, Saudara dalam proses yang saya alami, mulai dari RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Puskesmas, Sudin Sosial, Sudin Kesehatan sampai tingkat Dinas Kesehatan, berkas-berkas saya hampir-hampir saja selalau dipertanyakan karena kalau melihat pendidikan, tempat tinggal dan pekerjaan mereka tidak percaya kalau saya keluarga yang tidak mampu, tapi kembali saya cerita apa adanya. Tapi saudara saya harus siap masuk dalam proses dan melewati proses-proses itu. Tidak enak memang dan terkadang ada perasaan malu, tapi itu harus saya lewati.
Ketika saya harus menjalani semua proses-proses itu, saya berani bayar harga tidak lagi menjaga image atau harga diri saya, bahkan sekalipun ada perasaan malu tapi saya tidak memperdulikan perasaan saya yang saya bayangkan ada pertolongan Tuhan dalam masa-masa sulit yang saya alami. Akhirnya saudara, saya mendapat selembar kertas dari dinas kesehatan bahwa anak saya mendapat fasilitas SKTM dari pemerintah. Saya bawa surat itu ke bagian keuangan rumah sakit itu, dan ternyata saya bukan gratis, tapi saya ditanya oleh pihak RS dari 55jt, berapa bapak bisa bayar. Suadara pada waktu itu saya secara spontan berbicara saya bilang saya akan bayar 10jt, padahal pada waktu saya bilang 10jt, saya hanya punya uang di BCA saya 2jt rupiah. Akhirnya pihak RS setuju dan saya tandatangan bahwa saya akan bayar 10 juta ketika kami pulang dari RS.
Setelah saya banyak bergumul dan mengikuti saran apa yang dikatakan Pihak RS, akhirnya dalam usia 10 bulan anak saya Yehuda, menjalani operasi jantung untuk kasus bocor dan penyempitan pembulu darah. Orang dunia bilang “Badai Pasti Berlalu”, tapi badai yang saya alami tambah besar dan belum berlalu. Karena selesai operasi anak kami keadaannya makin buruk sampai lima hari setelah operasi tidak sadar-sadar, suhu badannya mencapai 41 derajat, dan ternyata dokter bilang kepada kami, karena jantung anak ini masih sangat kecil ada kesalahan dalam operasi, sehingga selama lima hari dia harus pakai alat bantu pernafasan dan jantungnya digerakkan oleh mesin, dan dokter bilang kalau setelah diobservasi selama seminggu tetap pakai mesin, maka dia akan dioperasi ulang untuk memasang batu battery jantung permanen. Dan setelah dokter bilang seperti itu, kami mulai teriak kepada Tuhan. Tidak....... Kami terus berdoa dan kami mulai perkatakan, nubuatkan bahwa ada mujijat Tuhan bekerja untuk Yehuda dan tidak perlu dioperasi ulang. Setiap ada waktu ke Ruang ICU kami terus perkatan, Yehuda engkau hidup, engkau sembuh, engkau tidak perlu dioperasi lagi, engkau akan menjadi hamba Tuhan yang akan melayani Tuhan ke bangsa-bangsa. Sampai lima hari kami terus berdoa dan perkatakan itu. Saudara tahu, masuk pada hari yang ke 5 dokter panggil kami, dan dia bilang “so amazing” pada hal dia bukan dokter orang percaya. Dan dokter bilang anak kami tidak perlu operasi ulang, dan dokter bilang dia sudah melepas alat-alat mesin dan anak bapak sudah bisa bergerak sendiri jantungnya. Bagi kami itu mujijat yang sangat luar bisa, saya percaya bukan karena teknologi dokter tapi Tuhan mendengar seruan kita. Tapi Tuhan minta mari kita menjadi orang yang lebih taat dan lebih setia lagi sekalipun dijijinkan dalam masa sukar. Tidak hanya itu saudara, setelah 28 hari di RS kami mau pulang karena anak kami sudah sembuh, tapi saya harus membayar 10 jt karena sudah begitu perjanjian. Saya kagum betul bagaimana Tuhan bekerja, ketika anak saya sudah di Ruang operasi ada satu teman saya yang meminta No Rekening saya, dan ternyata teman saya ini menceritakan keadaan kami kepada banyak teman yang mengenal kami bahkan yang tidak mengenal kami dan memberikan no rekening kami, disamping ada juga banyak teman-teman, keluaraga, jemaat, hamba-hamba Tuhan yang datang mendukung kami dan mereka memberkati kami. Sekitar dua hari sebelum pulang saya melihat saldo di BCA saya di ATM, saya sampai tidak percaya yang tadinya sebelum anak kami operasi uang didalam hanya 2 jt, tapi ketika saya cek saldo ada uang di rek saya 42jt. Saya hampir tidak percaya, akhirnya saya cek ke Bank ada 15 orang yang mentrasfer uang ke rek saya dalam jumlah yang besar dan saya hanya mengenal 7 orang dari yang 15 itu, selebihnya sampai hari ini saya tidak tahu siapa mereka yang mengirin uang. Saudaraku, kisah yang kita baca tentang janda itu, saya alami. Elisa bilang setelah mujijat terjadi dengan mujijat lewat minyak itu, jual minyak itu, bayar hutangmu dan hidup dari lebihnya. Sisa uang itu bisa kami pakai untuk keperluan kontrol dan kebutuhan lain, bahkan setelah anak saya Yehuda sembuh berkat Tuhan masih berdatangan, dan akhirnya sepulang dari RS kami bisa beli mobil. Terkadang kita tidak mengerti jalan-jalan yang harus kita lalui tapi percayalah Tuhan berkuasa, Tuhan berdaulat, dan Tuhan mau melakukan hal-hal yang besar bagi kita. Sekarang Yehuda anak kami sudah kelas II dan Tuhan anugerahi dia kepintaran yang luar biasa, dia bertumbuh sehat seperti anak-anak yang lain. Kalau hari ini saudara punya persoalan, jangan menyerah, natikan Tuhan melakukan perkara besar, biar kita senantiasa “MENGALAMI MUJIJATNYA DALAM MASA SUKAR” Maju terus dalam Tuhan. Haleluya
Pdt Aristarkus Joel Tarigan SH, PG.Dip.IS Gembala GKKI Shalom Jakarta Ketua I Sinode Gereja Kristen Kudus Indonesia (GKKI) Tlp 021-4287-2237, 0813-1903-4073, Email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it Menikah dengan Pdt Hosianna Sitepu, AMK, STh(c) Memiliki 3 orang anak, Priskila Joel, Timothy Joel, Yehuda Yabes Joel Tinggal didaerah Cempaka Putih, Jakarta Pusat
|
World Prayer Assembly
Latest News
- Diciptakan Tuhan Untuk Menjadi Sangat Berguna
- Luar Biasanya Kuasa Kepedulian
- Sosialisasi WPA di Medan
- Manado, 8-9 Agustus 2011
- Sosialisasi WPA Youth Track di Batam diadakan dua hari dari tanggal 18-19 oktober 2011
- Seek My Face
- Rapat Kerja Nasional (Rakernas) JDW
- Flood in Bangkok
- Alami Muzijat Dalam Masa Sukar
- Kunjungan Dept/Track Mobilisasi Pra WPA ke Palembang
- Rakerda Papua
- Laporan Rakerda Kalsel Kalteng Kalbar
- Sosialisasi pra WPA di Batam
- Kegerakan Doa oleh Kuasa Roh Kudus bagi Sumatera dan Indonesia
- Alami Muzijat Dalam Masa Sukar
- Undangan Call2All









